Posted in Hipocrite, Monologues

Mendaras Doa “Keadilan”

Aku masih ingat, beberapa jam setelah jasadmu dibalut tumpukan tanah merah, pembicaraan mengenai apa yang kau tinggalkan sudah dimulai. Saat itu, ingin rasanya aku memecah pembicaraan tersebut dengan membakar semua foto-foto dirimu di depan hidung mereka. Agama diseret sebagai dasar keadilan dalam membagi harta peninggalanmu. Ah, lagi-lagi kata “Agama”.

Kini, mereka menyeretmu kembali ke dunia, seolah kalaupun kau bisa peduli, kau akan berterima kasih atas apa yang sekarang mereka lakukan atas namamu, atas nama agama yang selama hidupmu kau yakini, lebih mulianya lagi, atas nama keadilan. Sampai saat ini pun, aku masih belum paham tentang keadilan. Apalagi  mengenai keadilan yang dikaitkan ke neraca untung rugi.

Justice

Pah, kalau kau masih bisa peduli tentang update masalah keluargamu, tolong sampaikan kepada Sang Pemilikmu, untuk segera menghentikan drama yang mengatasnamakan keadilan ini, hentikanlah mereka yang kerap menunggangi agama sebagai alat untuk memuaskan ego. Aku sih, tidak akan terkaget-kaget kalau kemudian hari mereka akan menghias rak ego mereka dengan nama tuhan mereka, tuhan yang mereka daulat sebagai tuhanmu.

Kini, mereka sedang bersaing strategi. Membentuk kubu, memupuk curiga, menjadi hakim-hakim amatir. Mungkin beberapa dari mereka tengah mengukir doa-doanya dengan apa yang mereka sebut sebagai (lagi-lagi) keadilan. Mungkin mereka sudah mendaras doa yang sama sejak kau dan saudara-saudaramu masih mampu ikut campur dalam menjaga kerukunan. Kini, setelah kalian semua terlepas dari jatah ego keduniawian, mereka muncul dengan dalih “menuntut hak”.

Rumah tempat kau dan ayahmu menghembuskan nafas terakhir kalian, kini terasa seperti neraka. Kami diposisikan sebagai pengungsi yang sudah habis masa suakanya. Sungguh, kenapa baru sekarang? Kenapa tidak pada saat kau dan saudara-saudaramu masih mampu menjelaskan duduk perkaranya?. Strategi picik ini seolah sudah mereka siapkan berpuluh tahun lamanya dan kematianmu menjadi bagian di dalamya.

Kami; anak-anak dari pernikahan ke dua-mu dianggap buta dan tuli.  Iya, kami memang buta dan tuli atas apa yang telah menjadi kesepakatan antara kau dan saudara-saudaramu. Kami hanya mampu meraba apa yang dulu kalian sepakati melalui tumpukan-tumpukan akta notaris yang sudah menguning. Tumpukan akta yang menurut mereka tidak sesuai dengan dasar-dasar keadilan yang tertuang di agama mereka.

Bicara menuntut keadilan, adakah satu dari mereka yang tahu besarnya kerugian psikologis yang menggantungi kami sedari kami kecil?. Masa kecil kami indah berhiaskan berbagai jenis kekerasan verbal, fisik dan mental. Kami dipaksa untuk memahami dan memaafkan kata-kata kotor yang terlontar dari mulut anak pertamamu setiap kali beliau merasa tidak ‘dipuaskan’. Kami harus menelan dan merenda air mata kesakitan kami setiap kali beliau kehilangan kendali akan tangannya dan melukai pipi, dan paha kami. Kami tidak boleh terhenyak ketika beliau melempar piring dan menyiramkan air panas ke Asisten Rumah Tangga kami. Sampai detik ini, kami dipaksa untuk menerima dan memaafkan itu semua. Semua runutan kesakitan itu masih tersimpan rapi di ingatanku, karena aku belum berhasil menutup lukanya. Keadilan?

Mungkin sekarang beliau akan berkata: “ah, kapan aku melakukan itu semua? Ada bukti?” atau “Kalian semua tahu, bahwa otakku beberapa tahun terakhir ini mengalami gangguan, aku tidak ingat aku pernah melakukan itu. Jika ya, mohon dimaafkan”.

Aku masih sangat ingat dengan jelas sebuah episode saat  Kau menangis di tengah shalat malammu, Pah. Rintihan sesakmu mengiris ratusan luka yang aku pendam. Hanya nama TuhanMu yang hadir di isakmu saat itu.

Mari bicara keadilan, karena aku tidak paham.

Sudahlah Pah, mungkin tolong sampaikan kepada Tuhan bahwa aku kecewa. Ah, mungkin tidak perlu, karena aku pun orang jahat yang seenaknya menjatuhkan penilaianku terhadap para pemburu itu. Maafkan, maafkan, maafkan. Tidak ada satu kata pun, yang pantas untuk aku jadikan pembelaan kenapa tulisan ini begitu sarat akan kemarahan.

Tuhan, Kau memang Maha Kuasa.

 

Jakarta, 8 Juni 2017.

 

 

*Image Source : http://truedollarjournal.blogspot.co.id

Advertisements

Author:

Infinity trapped in space and time. Me; such a limited form of what so called 'Him'.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s